Book Review 3

Label:

REVIEW NOVEL “HAFALAN SHALAT DELISA” TERE LIYE

Agan, dan Sista… Gimana niih kabarnya ?? Yuhuuu, masih di Blognya Saeli…  Tentunya masih dengan pembahasan yang sama seperti sebelum-sebelumnya, saya akan mereview sebuah buku. Jadi jangan bosan-bosan mampir kesini ya… Do you know ? Lagi-lagi saya merasa sangat beruntung karena masih diberi kesempatan untuk membaca, merampungkan novel yang begitu luar biasa hebat. Novel yang begitu banyak memberikan inspirasi, kesan, dan pesan. ”Hafalan Shalat Delisa” karya penulis hebat Tere Liye. Novel yang satu ini ngga berbicara tentang MIMPI seperti dua novel yang sudah saya review sebelumnya, tapi didalamnya mengisahkan perjalanan hidup seorang anak kecil berusia enam tahun yang hidup bersama Abi Usman dan Umi Salamah serta ketiga kakak perempuannya Kak Fatimah, Kak Zahra, dan Kak Aisyah di pesisir pantai Lok Nga, Aceh. Gadis kecil bernama Delisa yang sedang semangat belajar mengafal bacaan shalat dengan ustadznya, yang sedang belajar naik sepeda bersama sahabatnya, yang sedang berharap akan segera mendapatkan kalung dari Uminya sebagai hadiah atas keberhasilannya menghafal bacaan shalat. Sampai tiba-tiba bencana 26 desember 2004 saat itu merenggut semua yang dia miliki. Sunami Aceh telah membawa Umi, ketiga kakak, sahabat, bahkan kaki sebelah kanannya. Yang tersisa hanyalah Abinya. Namun, dia belajar ikhlas melepaskan orang-orang yang sangat disayanginya. Dia tidak sedih meski harus hidup dengan satu kaki saja,meskipun sebelumnya dia merasa Allah tidak adil terhadapnya, dia bahkan tanpa sadar telah mengajari orang-orang dewasa disekitarnya untuk menghadapi cobaan yang terjadi dengan lapang dan sabar. Sebagai anak kecil, Delisa juga mengalami trauma, dia takut melihat air laut, tetapi Abinya selalu membesarkan hatinya, selalu mengatakan bahwa air laut yang telah menghantam Lok Nga hanyalah cobaan. Diakhir cerita, Delisa selesai menghafal bacaan shalat dan seperti janji Uminya, yang mengatakan akan memberikan kalung itu jika selesai menamatkan hafalan shalat, atas izin-Nya Delisa menemukan Uminya yang telah berbentuk kerangka, dengan kalung tergantung dijarinya. Delisa mendekap kerangka itu, menangis. Ya, Uminya telah memenuhi janjinya untuk memberikan kalung itu setelah Delisa selesai merampungkan hafalan shalatnya… TERE LIYE Tere Liye, penulis novel yang patut mendapatkan apresiasi mengingat karyanya yang begitu menginspirasi. Penulis sangat pandai merangkai kalimat-kalimat dalam novel tersebut, sehingga mampu menyentuh hati pembacanya. Ngga heran kalau novel ini menduduki jajaran novel-novel best seller di Indonesia, karena memang isinya sangat berkualitas, banyak makna tersurat yang mengajarkan bagaimana seharusya kita menjalani kehidupan ini secara nyata, dengan semangat, optimisme, besabar dan ikhlas. Penulis juga menyisipkan nilai-nilai moral serta agama dalam novel tersebut, jadi dianjurkan juga untuk pembaca yang masih dibawah umur sekalipun, karena dari situ mereka bisa belajar bagaimana sholat yang benar, bagimana saling menyayangi orang tua dan saudara, dan bagaimana agar menjadi orang yang sabar. Nah, kalo berbicara tentang kekurangannya, menurut saya tokoh Kak Zahra disini terlalu pasif, ngga banyak percakapan yang dilakukannya. Tokoh Kak Zahra dalam novel memang diberi karakter pendiam oleh penulisnya, tapi disini kesannya seolah-oleh Kak Zahra ini ngga bisa bicara. Gituuuu... Dan akhirnya, saya menyimpulkan kalo buku ini cucok buat semua kalangan, sagat mendidik, menginspirasi juga…. Sampaiketemu lagi di Book review selanjutnya yaa, 

0 komentar:

Posting Komentar